Minggu, 10 Mei 2009

Sejarah Kehidupan Sang RHMS


Raden Haji Mochammad Syafei (RHMS), lahir di Bojong Lopang pada tanggal 18 november 1920, Putra keempat dari R.H.M. Basah dan Siti Ratnasih. Memiliki riwayat pendidikan MULO dan sekolah militer di Gombong (sebuah kota di Jawa Tengah). Sewaktu beliau sedang sekolah militer, pada saat liburan sekolah beliau tidak pulang ke rumahnya melainkan ke rumah seorang patih (pejabat bupati) di daerah Bogor yang juga masih sanak famili beliau, di saat bersamaan Nyi Rd. Siti Aminah yang tidak lain sepupu dari RHMS juga datang ke rumah patih tersebut karena diajak oleh RHMB. Rupanya ada niat tersembunyi dari Sang Bapak untuk menjodohkan keduanya yang tidak diketahui oleh RHMS. Pada saat itu Rd. Siti Aminah masih berusia 16 tahun dan semenjak kelas empat SD memang sudah ikut bersama RHMB (Uwa). Dalam pertemuan tersebut Rd. Siti Aminah disuruh untuk mengenakan kebaya (sebagai tanda bahwa sudah menjadi seorang gadis), namun betapa terkejutnya RHMS melihat penampilan Rd. Siti Aminah yang terlihat cantik dan dewasa dengan pakaian seperti itu, padahal beberapa tahun yang lalu Rd. Siti Aminah masih digendong oleh RHMS, karena pada saat itu beliau masih kecil. Ketika Rd. Siti Aminah hendak pulang, RHMS membisikkan kepada Sang Bapak RHMB bahwa beliau menghendaki Rd. Siti Aminah untuk dijadikan istrinya. Sang Bapak hanya tersenyum simpul mendengarnya, Karena memang itulah yang direncanakannya.

Pada tahun 1943 resmilah RHMS dengan Rd. Siti Aminah menjadi sepasang suami-istri, dan setahun kemudian, pasangan ini dikaruniai seorang putra pertama yang diberi nama R. Yunus Nugraha. Pada waktu itu RHMS masih menjadi tentara yang selalu bergerilya. Pada tahun 1947, ketika diperintahkan untuk long march ke Yogyakarta, sang kakak RHM Oetom Sumaatmaja melarang beliau untuk pergi dengan alasan beliau bisa bekerja di bawah tanah ( sebagai penyuplai makanan untuk tentara ), karena jika pihak Belanda tahu beliau seorang tentara, maka saudara – saudaranya yang bekerja di pemerintahan sebagai pegawai negeri sipil akan terancam. Sejak saat itulah beliau menjadi PNS tetapi jiwanya tetap loyal kepada militer. Hampir dua atau tiga tahun sekali pasangan ini dikaruniai seorang anak, hingga akhirnya berjumlah 12 orang.

Dalam pendidikan formal, beliau adalah seorang yang cerdas, dimana ketika mendapatkan kesempatan sekolah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri ( sekarang IPDN ) di Bandung pada tahun 1959, beliau berprestasi tinggi. Padahal saat itu beliau telah memiliki 8 orang anak, nilai-nilai pelajaran yang didapatkan tidak pernah dibawah angka delapan dan hal itulah yang selalu diperlihatkan kepada anak-anaknya ketika sedang belajar, sehingga menjadi pemicu anak-anaknya untuk lebih berprestasi. Untuk riwayat kerja, beliau pernah bekerja sebagai juru tulis, mantri polisi, asisten camat hingga menjadi seorang camat.

Beliau banyak mengeluarkan fatwa kepada anak-anaknya, salah satunya yaitu “ Ketika kamu datang ke suatu tempat, warnailah keadaannya dengan sesuatu yang ada pada dirimu hingga kamu bisa menjadi orang yang disukai dan membuat mereka akan sangat kehilangan jika kita sudah tidak ada”. Hal ini selalu dicontohkan ketika beliau menjadi seorang komandan atau Camat. Seperti contoh, ketika di Cikembar (saat masih menjadi Asisten Camat), masyarakatnya terdiri atas Islam dan Kristen. Beliau diangkat menjadi panitia pembangunan masjid, semua masyarakat yang beragama Kristen diajak beliau untuk bersama-sama membangun masjid tersebut sehingga menunjukkan toleransi antar umat beragama dan beliaupun mendapatkan pujian dari Bupati.

Dari sekian banyak prinsip yang dianutnya ada satu prinsip yang paling beliau utamakan, yaitu selalu mendahulukan beribadah kepada Allah seperti halnya shalat awal waktu dimanapun beliau berada. Ada satu cerita, ketika beliau sedang rapat dengan bupati atau gubernur sekalipun apabila waktu shalat telah tiba, beliau interupsi minta waktu paling sedikit lima menit untuk shalat, karena beliau ingin menunjukkan bahwa pemilik kekuasaan tertinggi itu hanya Allah. Beliau juga selalu membawa kain sarung dan sajadah kemanapun beliau pergi. Hal itu juga selalu diterapkan kepada anak-anaknya, dimana apabila putra-putrinya pulang ke rumah atau datang dari mana saja yang pertama kali beliau tanyakan adalah “Sudah shalat kamu? dan Shalat dimana kamu?”.

Sosok yang gemar menjala ikan ini sangat suka shalat berjamaah dan makan bersama dengan keluarganya, karena beliau memiliki motto “Al Jamiattun fil barkah ( )”. Satu hal yang unik dari beliau bila sedang ada masalah dengan sang istri Rd.Siti Aminah, mereka menyelesaikan masalah tersebut dengan saling mengirimkan surat. Berbagai kisah kehidupan suka dan duka selalu dilewati bersama istri dan anak-anaknya tercinta, menurut anak-anaknya banyak cerita hidup yang tidak dapat mereka lupakan.

RHMS telah menjelma menjadi sosok yang begitu dihormati, baik oleh keluarganya maupun oleh semua orang yang mengenalnya. Maka, ketika beliau tutup usia pada 15 Februari 1997, semua orang benar-benar merasa kehilangan seorang sosok yang selalu bisa dijadikan panutan. Keluarganya telah kehilangan figur seorang ayah yang selalu berdiri tegak untuk memimpin keluarga. Beliau telah meninggalkan jejak yang dalam di hati banyak orang, sehingga beliau akan tetap hidup di dalam hati semua orang yang pernah mengenalnya.

Hendy Herdiman mengatakan...

Wah bagus nih dah ada yang berkontribusi yang lainnya mana nih ??