Senin, 14 Juli 2008

Kunjungan Kenegaraan

Siang itu panas banget…. Saya baru saja pulang sekolah. Ruang depan yang gampang banget berdebu terasa sumpek. Begitulah kondisi rumah saya dulu di Kebayoran Lama… saya menyanyikan beberapa lagu tahuun 80an sambil membaca buku kumpulan lirik. Maklum, hobi saya adalah menyanyi. Jadi, menghapal lirik adalah suatu “sunnah Muakad” buat saya … he…he… he…

Tiba tiba terdengar suara pintu diketok… langsung saya beranjak menuju pintu. Namun, sebelumnya saya mengintip lewat jendela. “Bapak…. Emak….” Teriak saya sambil melompat kegirangan… langsung saya bukakan pintu rumah dan menyambut tangan mereka untuk saya cium.

Bapak yang mengenakan safari abu-abu tesenyum. Begitu juga Emak. Hembusan nafas terdengar seiring dengan membesarnya pipi Bapak. Bapak memang begitu. Mungkin karena faktor usia, Bapak jadi sering kecapekan. Sementara Emak, dengan kerudung di kepala dan mengenakan kebaya lengkap dengan tas yang menggantung di tangannya.

Tidak berfikir lama lagi, Bapak dan Emak langsung saya ajak masuk rumah. Setiap kali Bapak dan Emak datang, saya selalu senang. Sosok mereka jauh dari Kakek yang menyeramkan dan menjaga jarak dengan cucunya. Tanpa mereka beritahukan, kami menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada Mereka. Bapak dan Emak sering mengunjungi anak-anaknya dimanapun mereka berada. Saya menyebutnya dengan ”KUNJUNGAN KENEGARAAN”

Bangun dari tidur siang untuk shalat Ashar, Bapak menyuruh saya untuk membelikan sesuatu. Saya tidak ingat apa yang disuruh oleh beliau. Yang jelas, beliau membuka tempat Beliau biasa menaruh uang. Sungguh sangat sedih saya melihat tempat uang Beliau. Bukan dompet… hanya sebuah tempat KTP (kalau saya tidak salah). Bayangkan, Bapak adalah seorang mantan camat Pelabuhan Ratu. Namun, hidup sangat sederhana. Saya Bicara dengan Beliau. Saya lupa isi pembicaraan kami apa, seingat saya, saya menawarkan kepada Beliau untuk membelikan dompet.Beliau pun menyetujui. Saya tidak ingat saat itu menggunakan uang siapa, yang jelas, sore itu saya membelikan Beliau sebuah dompet di pasar Kebayoran lama. Puas hati saya melihat paras muka Bapak yang kelihatannya senang dengan dompet itu ketika saya memberikannya.

Kalau ada Bapak, biasanya ada Emak. Dan biasanya, kalau ada Emak, ada makanan Enak. Saya suka sekali makan kue pisang bikinan Emak. Saya lupa apa namanya. Yang jelas, setiap Emak bikin itu, saya pasti nambah.... . Bicara soal makanan buatan Emak, saya pindah setting dulu. Saya ingat dulu, bulan puasa, menjelang waktu berbuka puasa, kami para cucu berkumpul di depan TV menantikan maghrib. Di depan kami sudah ada kue pisang, mi glosor dan teh manis. Emak mondar mandir aja di ruang tamu sambil terus menyiapkan menu berbuka puasa. Ketika waktu berbuka tiba, kami langunsung menyantap hidangan.Seingat saya, kalau sudah begitu, Emak hanya tertawa terkekeh-kekeh. Begitu makanan habis, langsung kami nambah.

Bapak dan Emak memang sosok yang Sangat patut di contoh. Bapak tidak pernah suka bepergian sendirian tanpa Emak kecuali terpaksa. Pernah Bapak sedang menginap di Depok, kemudian mendengar kabar bahwa Emak sedang ada di Citeureup. Langsung Bapak pamit untuk pergi ke citeureup. Saya yang ketika itu masih SMP awalnya membiarkan Bapak pergi sendiri. Namun, entah mengapa, setelah Beliau naik angkot, terbayang wajah beliau, jalan yang mulai melambat, nafas yang terengah-engah, membuat kami yang ada di rumah memutuskan untuk mengawal Bapak. Akhirnya, saya menyusul ke terminal Depok. Sampai di terminal, saya naik turun bus untuk mencari Bapak. Alhamdulillah ketemu. Bapak sempat kaget melihat saya dan bertanya. Saya jawab kalau saya nggak tega melihat Bapak jalan sendirian. Karena jawaban itu, saya menerima satu “pukulan”. Jangan berfikir yang tidak-tidak. “pukulan” dari Bapak adalah Pukulan sayang pada jidat dengan menggunakan bawah tangan yang mengepal dan tidak sakit. Kami tidak pernah jera dengan “pukulan” itu…Seandainya boleh mengurutkan, saya akan menempatkan Bapak dan Emak sebagai sosok yang patut ditiru setelah Rasulullah SAW. Sekali lagi, setidaknya begitu pendapat saya.

Ceritanya bersambung ya... klo ada yang punya cerita soal Kakek dan Nenek kita ini, tolong email ke saya. Rijan20@yahoo.com

Hendy Herdiman mengatakan...

Good Story Jan !! Bagus nih cerita seperti ini bisa menginspirasi generasi kita untuk tetap meneladani sikap dan perilaku orang tua kita !!

Anonim mengatakan...

Cerita yang bagus,setidak nya Mamang bisa merasakan kejadian nya,terus dooong kirim cerita-cerita indah nya tentang orangtua kita ini agar kenangan-kenangan indah itu bermunculan kembali